Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan

Jumat, 13 Desember 2013

Kisah Syeh Siti Jenar Dan Ki Ageng Pengging



Blok Sita: Nusantaraku - Selasa, 31 Desember 2013 08:46 WIB
 
image Syeh Siti Jenar (Foto: SP091257)
Kisah ini berawal ketika Ki Kebokenongo yang dikenal juga dengan sebutan Ki Ageng Pengging berniat memberontak terhadap penguasa Demak, Sultan Bintoro. Berita tentang  pemberontakan yang akan dilakukan Ki Kebokenongo itu sampai juga ke telinga Syeh Siti Jenar.  Maka Syeh Siti Jenar pun berangkat ke Pengging  menemui Ki Kebokenongo.  Hal tersebut dilakukan Syeh Siti Jenar oleh karena Ki Kebokenongo mempunyai niat dan tujuan yang sama dengan dirinya, berniat memberontak terhadap Demak. Selain itu ia memiliki kepercayaan dan pandangan agama yang sejalan dengan dirinya.  Setiba di desa Pengging Syeh Siti Jenar langsung menjumpai Ki Kebokenongo di rumahnya.  Setelah mengucap salam, berkatalah Syeh Siti Jenar kepada  Ki Kebokenongo:

     “Ki Ageng Kebokenongo, aku mendengar kabar Ki Ageng berselisih faham tentang kekuasaan dengan Sultan Bintoro dan hendak memberontak terhadap Demak, benarkah itu?”

Mendengar pertanyaan yang tak diduga-duga dan bersifat pribadi dari Syeh Siti Jenar, orang yang belum dikenalnya secara dekat, Ki Kebokenongo sedikit terperanjat. Dengan senyum dikulum ia berkata kepada Syeh Siti Jenar:

     “Wahai kisanak, siapakah tuan ini, dan dari manakah?”  

Mendengar jawaban Ki Kebokenongo seperti itu Syeh Siti Jenar menjadi heran, sebab meskipun tidak sering bertemu dengan Ki Kebokenongo, tetapi ia pernah beberapa kali berjumpa dan berbincang-bincang bertukar pikiran soal kepercayaan, agama dan masalah keadaan situasi politik di Demak yang dirasakan semakin  tidak kondusif lagi. Dengan perasaan sedikit kecewa yang dipendam, Syeh Siti Jenar berkata kepada Ki Kebokenongo dengan akrab  penuh rasa persahabatan:

     “Walah, walah,walaaah...Ki Ageng ini piye, tho? (KI Ageng ini bagaimana?) Apa sudah lupa dengan aku, Syeh Siti Jenar seorang hamba sahaya yang mendapat derajat tinggi secara tiba-tiba, dan orang menyebut aku seorang wali. Berbeda dengan Ki Ageng yang masih keturunan raja, kaum bangsawan yang memerintah pulau Jawa ini.  Tetapi sekarang hidup susah, tinggal di desa menjadi petani, bercocok tanam menanam padi dan palawija karena perlakuan Sultan Bintoro, raja Demak yang tamak itu”.

     “Oya, ya, ya... Aku baru ingat sekarang, maafkan aku Syeh Siti Jenar, sungguh aku tak menduga dan tak mengenalimu sebab penampilanmu jauh berbeda.  Jenggot, kumis, rambutmu agak panjang sekarang, dan pakaianmu pun semakin hitam gelap segelap dan hitamnya kehidupan sekarang . Namamu pun  semakin terkenal di kalangan masyarakat maupun di kalangan pemerintahan bahkan di seantero Jawa ini, dan banyak pula yang menyebutmu dengan sebutan Syeh Lemah Abang.  Mari, jangan sungkan-sungkan,  Syeh!  Anggap saja ini seperti di padepokanmu. Oya, Sekarang apa lagi yang akan kau bicarakan sebab aku pun ingin tahu maksud dan tujuanmu datang jauh-jauh kemari meninggalkan keramaian kota ke desa terpencil, Pengging yang sekarang menjadi tempat tinggalku. Mengelola sebidang tanah dan sawah, tempat mesu diri memikirkan kehidupan yang  semakin aku tak mengerti, penuh kemunafikan, keserakahan, ketamakan, intrik-intrik, dan ambisi pribadi hanya untuk mendapatkan kekuasaan dan jabatan seperti yang terjadi di Demak Bintoro ini sebagaimana yang telah Syeh Siti Jenar katakan.”

     “Baiklah Ki Ageng, sebenarnya aku sudah lama ingin berkunjung ke sini untuk menemuimu membicarakan tentang keadaan negeri, bertukar pendapat, pikiran dan pandangan terkait dengan kehidupan keagamaan dan kepercayaan yang kita sebarkan kepada santri-santri kita dan masyarakat kita di Demak Bintoro ini yang semakin terasa tidak nyaman karena ajaran-ajaran kita dianggap nyeleneh dan sesat ke luar dari ajaran Islam. Dan sungguh aku sangat mendukungmu dan akan membantu sekuat tenaga, jiwa dan raga serta pikiran jika rencana untuk memberontak terhadap Demak itu jadi kau laksanakan.” Demikian  Syeh Siti Jenar menyampaikan pikiran, pendapat, dan pandangannya  serta dukungan sepenuhnya terhadap Ki Kebokenongo, sambil tak lupa mengelus kumis dan jenggotnya yang hitam agak keputihan itu.

     “Baiklah, Syeh Siti Jenar! Aku sangat berterima kasih sekali dengan dukunganmu. Akan tetapi sebaiknya fokus pembicaraan kita belum mengarah ke sana, ke rencana pemberontakan itu,  karena semuanya itu tentu memerluan persiapan yang matang baik secara fisik, mau pun non fisik, dan yang utamanya lagi adalah persiapan materi logistiknya karena masyarakat kita, santri-santri kita masih belum siap untuk melakukan pekerjaan besar seperti itu.  Marilah kita membahas yang berkait dengan keagamaan kita karena terus terang aku butuh ketenangan jiwa, dan  itu kutemukan saat aku mesu diri  mendalami, mengkaji, merenung diri apa arti sejatinya sebuah kehidupan.” Demikian kata-kata Ki Kebokenongo menanggapi pendapat Syeh Siti Jenar.

     “Jika demikian adanya, aku sangat sependapat denganmu, Ki Kebokenongo. Aku sangat bersyukur jika pendapat dan pemikiran kita masih bisa dipersatukan, dan mari kita bersatu tekad untuk tetap memegang teguh ajaran kita masing-masing meskipun taruhannya  tubuh kita akan hancur lebur akan tetapi ajaran-ajaran kita akan terus tetap berkembang sampai di hari kemudian menuju alam kelanggengan. Sekarang, marilah kita segera menyembelih ayam berbulu putih seluruhnya dengan nasi putih yang dicampur garam sedikit sebagai alasnya.”

Selanjutnya Ki Kebokenongo yang dikenal juga dengan julukan Ki Ageng Pengging menyuruh kepada istrinya untuk menyembelih seekor ayam  berbulu putih dan mempersiapkan nasi putih untuk acara selamatan pada malam harinya. Menjelang senja saat petang hari, masakan disajikan ditutupi dengan kain yang juga berwarna putih. Syeh Siti Jenar dan Ki Ageng Pengging duduk di serambi sanggar berbincang membahas tentang agama Hindu, Budha, dan Islam.

Sambil  menanti malam tiba, Ki Ageng Pengging mengawali diskusi dengan membahas tentang ajaran agama Hindu-Budha, sedangkan Syeh Siti Jenar mengulas agama Islam yang disampaikan dengan cara  yang menarik sekali. Kalimat-kalimat yang disampaikan jelas dan tersetruktur sehingga mudah ditangkap dan dicerna. Ki Ageng Pengging mendengarkan  secara serius dan penuh perhatian.  Menikmati kata demi kata, kalimat demi kalimat yang disampaikan Syeh Siti Jenar. Dan  Pada akhirnya mereka berdua berkesimpulan bahwa meskipun agama yang mereka anut berdua masing-masing berbeda, akan tetapi hakikatnya adalah sama bahwa agama itu mengajarkan tentang kebenaran, menuntun manusia, bagaimana manusia harus bersikap kepada Tuhan, kepada manusia, dan kepada alam.

Mereka berdua, Ki Ageng Pengging dan Syeh Siti Jenar  sangat menikmati debat dan diskusi agama itu, sehingga tak terasa malam pun  mulai merayapi desa Pengging. Cuaca dingin merasuk mengelitik tubuh, kabut tipis menggumul  depan serambi rumah Ki Ageng Pengging menambah cuaca malam itu semakin dingin. Tak lama kemudian mereka berdua  masuk ke dalam sanggar lalu masing –masing mengambil kain putih yang dipakai sebagai penutup hidangan. Syeh Siti Jenar duduk menghadap ke utara, sedangkan Ki Ageng Pengging menghadap ke selatan, mereka saling berhadap-hadapan.  Mereka berdua akan saling bertanya dan menjawab  secara makrifat, berargumentasi dengan saling debat menurut pemikiran dan kebenaran mereka masing-masing. 

Bertanyalah Syeh Siti Jenar kepada Ki Ageng Pengging:

     “Ki Ageng Pengging, sesungguhnya dimanakah Yang Maha Kuasa itu?”

Ki Ageng Pengging diam saja tak menjawab pertanyaan Syeh Siti Jenar. Sejenak kemudian ia berkata menjawab pertanyaan Syeh Siti Jenar dengan sebuah  pertanyaan pula:

     “Syeh Siti Jenar, menurutku jawaban pertanyanmu ada dalam pertanyaanku ini, ‘dimanakah pintu kematian itu?’ bisakah Syeh  menjawabnya?!

Menerima pertanyaan Ki Ageng Pengging, Syeh Siti Jenar diam tak bisa menjawabnya. Lalu mereka berdua pun saling merenung memikirkan kedua pertanyaan yang Saling mereka ajukan. Tak beberapa lama kemudian Ki Ageng Pengging berkata kepada Syeh Siti Jenar:    

     “Syeh Siti Jenar, besok aku akan menemukan kolong dunia.”

Menjawab Syeh Siti Jenar dengan cepat:
 
     “Itu salah besar Ki Ageng!”

Ki Ageng Pengging berkata:

     “Apakah saya akan masuk dan harus masuk ke alam kesunyian, seperti saat saya belum    dilahirkan?”

Jawab Syeh Siti Jenar:

     “Itu pun juga tidak benar, Ki Ageng!”

Ki Ageng Pengging melanjutkan kata-katanya:

    “Apakah saya akan sejiwa denganyang gaib, ‘Yang mandiri secara pribadi, menyatukan diri dengan keinginan, berubah menjadi air mani agar dapat melakukan penitisan, seribu hari makan irisan tipis-tipis sedangkan sedekahnya adalah mayat saya.”

Syeh Siti Jenar tetap menyangkal semua pendapat Ki Ageng Pengging yang dianggapnya salah dan tidak tepat dengan berbagai argumentasi yang kuat dan masuk akal.  Akhirnya Ki Ageng Pengging merasa bahwa tingkat ilmu kemakrifatannya masih di bawah Syeh Siti Jenar dan dia memohon kepada Syeh Siti Jenar untuk menjadi muridnya memberikan nasehat-nasehat dan wejangan-wejangan tentang  siapa, dan dimana Yang Maha Kuasa itu? Syeh Siti Jenar kemudian menjelaskan tentang, ‘Uning, Unong, Unang.’

Ki Ageng Pengging menyimak semua dengan sungguh-sungguh dan penuh perhatian apa yang diuraikan Syeh Siti Jenar akan tetapi ia masih belum menerima sepenuhnya ajaran Syeh Siti Jenar. Saat ia masih merenung memikirkan ajaran Syeh Siti Jenar, ia terkejut karena Syeh Siti Jenarbertanya kepadanya tentang dimana pintu kematian itu. Menjawab pertanyaan Syeh Siti Jenar, Ki Ageng Pengging menunjukkan telunjuknya ke arah bagian leher. Syeh Siti Jenar dapat memahami dan mengerti maksudnya. Selanjutnya, Syeh Siti Jenar menyantap daging ayam yang disajikan, memegang isi perut ayam seraya  berkata:

     “Apakah in sarang angin?”

Ki Ageng Pengging mengibas-ngibaskan kedua tangannya, memadamkan lampu dalam sanggar.  Mereka berdua tertawa bersama-sama karena menyadari bahwa sesungguhnya mereka masih diliputi oleh kegelapan tentang uning, unong yang menggambarkan kematian itu.
Tiga hari tiga malam sudah Syeh Siti Jenar berada di sanggar Ki Ageng Pengging membahas agama Hindu, Budha, dan Islam Ki Kebo Kenongo alias Ki Ageng Pengging itu. Pada akhirnya mereka menemukan kesepakatan, bahwa di antara kepercayaan mereka berdua tidak ada bedanya. Syeh Siti Jenar pun mohon diri utuk kembali  ke desanya, Krendhasawa. (SP091257)

Referensi:
YB. Prabaswara, Siti Jenar Cikal Bakal Faham Kejawen, Jakarta, Armedia  

Penulis:
Slamet Priyadi di bumi Pangarakan – Bogor
Rabu, 25 Desember 2013 – 15:10 WIB

Minggu, 11 Agustus 2013

Sasadara Manjer Kawuryan: Situs Liyangan Temanggung

Sasadara Manjer Kawuryan: Situs Liyangan Temanggung: Situs Liyangan, Situs purbakala yang konon adalah temuan situs candi dan pemukiman kuno terlengkap se-Indonesia.......* Situs Candi Li...

Minggu, 18 November 2012

MENGUPAS SECUIL SEJARAH MINANGKABAU



Istana Pagaruyung Sumbar - http://gemahripahst06.blogspot.com
Istana Pagaruyung di Sumbar
Mengungupas Secuil Sejarah Minangkabau

MINGGU, 18 NOV. 2012 – SITA BLOG: Dalam sejarah Minangkabau disebutkan sebuah kerajaan Pagaruyung yang dipercaya sebagai kerajaan peletak adat suku Minangkabau.  Diceritakan,  Raja Minangkabau yang bernama Bundo Kandung hilang entah kemana bersama dengan putranya dan para pengikut setianya.  Menurut sejarah dan pitutur dari para tetua di Pagaruyung, Bundo Kandung mengirap ke Langit, setelah kalah berperang dengan raja Tiang bungkuk dari Tamiang daerah Sungai penuh.

Apakah benar Bundo Kandung yang dikenal sakti itu bisa naik kelangit dengan membawa sebahagian besar para pengikutnya yang setia?  Ada yang aneh memang sejarah Minangkabau ini. Akan tetapi diselatan ranah Minangkabau, tepatnya di Nagari Lunang, Kecamatan Lunang Silaut, Kabupaten Pesisir Selatan (Painan) terdapat sebuah Rumah Gadang  (Rumah adat Minagkabau).  Rumah Adat tersebut dihuni oleh seorang perempuan yang bernama Mande Rubiah.  Sampai sekarang Rumah Gadang tersebut masih disebut Rumah Gadang Mande Rubiah.  

Di sekitar lokasi Rumah Gadang itu terdapat makam-makam kuno, yang menurut keturunan dari Mande Rubiah adalah makam Bundo Kandung, Dang Tuangku dan Cindur Mato serta makam-makam pengikut Bundo Kandung lainnya. Di Rumah Gadang ini juga dijumpai benda-benda pusaka berupa pedang,  keris, dan baju-baju kebesaran raja minangkabau.  Lain dari pada itu, ada yang unik pada tonggak rumah gadang ini,  salah satu tonggak di dalam Rumah gadang ini mengeluarkan air yang dipercaya oleh masyarakat setempat dapat menyembuhkan penyakit. Terdapat juga telur besar yang dipercaya telur dari seekor burung Garuda (Garudo).

Jadi, betulkah Bundo Kandung Mengirap Kelangit? Atau pergi kearah Selatan untuk menghindari pengejaran dari Raja Tiang Bungkuk?  Jika benar,  Bundo Kandung pergi keselatan, lalu siapakah yang diturutnya?  


Artikel terkait:
 


CINDUR MATO (Cerita Rakyat Sumatra Barat)
Oleh A.A. Navis di ceritakan kembali oleh  Sita S.Priyadi

Raja Tiang Bungkuk dengan keris saktinya"Sibungkuk"-http://pangarakan.blogspot.com
Image Raja Tiang Bungkuk dengan kerisnya
RABU, 14 NOV. 2012 – SITA BLOG:  Adik-adik! Kali ini kakak akan bercerita tentang kisah Cindur Mato yaitu Salah satu cerita rakyat dari Sumatra Barat yang jalan ceritanya patut kita jadikan pelajaran dalam menyikapi hidup di era sekarang ini. Beginilah ceritanya!

Menurut yang empunya cerita, tersebutlah suatu kerajaan  di Minangkabau yang bernama Pagaruyung.  Tahta kerajaan itu diduduki oleh seorang wanita bergelar Bundo Kandung. Ia mempunyai anak tunggal bernama Dang Tuanku . bundo Kandung juga mempunyai seorang saudara yang menjadi raja muda di ranah Sikalawi. Untuk memelihara hubungan, Dang Tuanku ditunangkan dengan anak Raja Muda yang bernama Puti Bungsu.

Pada suatu hari, istana Pagaruyung menjadi gempar karena berita yang dibawa pedagang keliling. Berita itu berisi bahwa Puti Bungsu akan menikah dengan Imbang Jaya, anak Tiang Bungkuk, raja dari Sungai Ngiang. Di Sikalawi juga tersebar berita bahwa Dang Tuanku menderita penyakit nimbi (penyakit kulit). Penyakit itu sudah menjalar ke seluruh tubuhnya dan tidak dapat dissembuhkan lagi. Itulah sebabnya Raja Muda bersedia menjodohkan Puti Bungsu dengan Imbang Jaya. Lagi pula Imbang Jaya semartabat dengan Dang Tuanku. Mereka sama-sama anak raja. Juga tersebar berita bahwa jalan antara Pagaruyung dan Sikalawi tidak dapat dilalui. Imbang Jaya telah memerintahkan penyamun untuk berjaga-jaga di pesawangan (tempat sepi antara desa-desa), supaya tidak seorang pun dapat lewat.
Bundo Kandung marah mendengar berita itu. Ia segera memerintahkan orang untuk menabuh bedug istana untuk memanggil para pembesar kerajaan. Setelah semua para pembesar kerajaan hadir, Bundo Kandung menceritakan berita itu. Bundo Kandung sangat gusar pada perlakuan adiknya, Raja Muda. Gusar karena memutuskan pertunangan kedua anak mereka tanpa pemberitahuan. Mereka akhirnya sepakat untuk menyelidiki apa yang sesungguhnya terjadi di Sikalawi. Kata mereka,

“Mungkin berita itu hanya fitnah untuk mengadu domba Bundo Kandung dengan Raja Muda. Oleh karena itu, perlu dikirim utusan ke sana.”

“Kita memerlukan utusan khusus. Utusan itu haruslah orang yang pemberani dan cerdik,” usul salah seorang yang hadir.

Akhirnya mereka sepakat memilih Cindur Mato untuk menjadi utusan. Dialah penjaga istana yang paling setia. Cindur Mato adalah anak Lenggo Geni, dayang kesayangan Bundo Kandung. Selain setia, Cindur Mato juga berhati tulus. Ia juga teman seperguruan Dang Tuanku, pendekar yang tidak ada tandingannya. Dengan sedih Bundo Kandung melepas Cindur Mato. Bundo Kandung member berbagai nasehat sebelum Cindur Mato pergi. Pada malam sebelum kepergiannya, Cindur Mato dibisikkan sesuatu oleh Dang Tuanku. Tak seorang pun yang tahu apa yang dibisikkan kepadanya. 

Menurut yang empunya cerita, Cindur Mato pergi dengan membawa Gumarang, kuda sembrani berbulu putih. Kuda itu dapat berlari kencang dan dapat melompat tinggi. Ia juga membawa kerbau bernama Binuang. Jika kerbau itu membunyikan genta yang tergantung dilehernya, bertaburanlah lebah yang bersarang di lehernya. Lebah untuk mementak (menyengat) musuh. Dibawanya juga ayam berbulu putih bernama Kinatan. Ayam sabungan (aduan) yang mengalahkan seluruh lawannya. Ayam yang kokoknya sangat keras.

Setelah lama berjalan, siang dan malam, akhirnya Cindur Mato tiba di pesawangan menjelang Sikalawi. Ketika melewati bukit Tambun Tulang, segerombolan penyamun tiba-tiba menghadang. Perkelahian Cindur Mato melawan para penyamun yang berjumlah banyak berlangsung tidak seimbang. Lambat-laun Cindur Mato terdesak dan kehabisan tenaga. Dengan suara pelan, Cindur Mato berseru,

“Wahai Binuang, goyang-goyangkanlah gentamu.” Bagaikan mengerti, Binuang pun menggoyangkan genta yang tergantung di lehernya. Lalu, berhamburanlah lebah berbisa keluar dari telinganya. Lebah berbisa itu menyengat para penyamun sehingga mereka lari tunggang langgang. Cindur Mato kemudian melanjutkan perjalanan. Menjelang tengah malam dia sudah sampai di Sikalawi.

Tidak menunggu pagi, Cindur Mato segera mengendap-endap masuk ke dalam itana. Ia langsung membangunkan Puti Bungsu yang sedang tidur pulaas. Dengan berbisik, Cindur Mato menceritakan maksud kedatangannya. Disampaikannya juga pesan dari Dang Tuanku pada malam sebelum keberangkatannya. Katanya,

“Dang Tuanku berpesan kepadaku supaya Kak Puti kubawa ke Pagaruyung.”

“Baiklah. Kapan kita pergi?” Puti Bungsu bertanya.

“Sebaiknya sekarang juga,” jawab Cindur Mato.

Tanpa berpikir panjang, Puti Bungsu pergi mengikuti Cindur Mato menuju Pagaruyung. Pagi harinya, istana Raja Muda menjadi gempar. Dayang-dayang istana tidak menemukan Puti Bungsu di kamarnya. Telah dicari ke seluruh peloksok istana, tetapi Puti bungsu tidak ditemukan. Berita itu tersebar sampai ke luar istana. Akhirnya, berita itu didengar Imbang Jaya. Dia telah mendapat kabar dari salah seorang penyamun Bukit Tambun Tulang bahwa Cindur Mato tidak mampu mereka hadang. Imbang Jaya menjadi yakin bahwa Puti Bungsu dibawa ke Pagaruyung. Imbang jaya segera melompat ke punggung kudanya. Hulubalangnya (pengawal) mengikuti di belakang. Imbang Jaya bukan putra sembarang raja. Ia putra raja yang kebal dan kejam. Dipacunya kuda agar berlari kencang. Kemudian Imbang Jaya mengejar Cindur Mato. Pertarungan pun berlangsung dengan seru dan seimbang. Namun akhirnya, ketika desta (ikat kepala) Imbang Jaya jatuh ke tanah, kesaktiannya tiba-tiba punah. Cindur Mato segera menusukkan belatinya. Imbang Jaya jatuh ke tanah dan tewas seketika itu juga.  

Setibanya di Pagaruyung, Cindur Mato dimarahi Bundo Kandung karena ia telah melanggar perintah.  Ia kemudian diadili oleh Pembesar Empat Balai. Akan tetapi, pengadilan itu tidak menghasilkan satu keputusan pun.  Oleh karena itu, pengadilan keesokan harinya dipimpin langsung oleh Bundo Kandung. Bundo Kandung ingin menyelesaikan secepatnya.  Hal itu untuk menjaga agar jangan sampai peristiwa itu menjadi keributan.

“Persoalan yang terberat bukanlah masalah Cindur Mato menculik Puti Bungsu. Persoalannya adalah Imbang Jaya tewas dibunuh oleh Cindur Mato. Tiang Bungkuk pasti marah besar dan akan membalas.”  Bundo Kandung melanjutkan kata-katanya.

“Tiang Bungkuk bukan raja yang dapat diajak berunding. Dia akan datang ke sini untuk menuntut balas atas kematian anaknya. Itu yang pertama.  Kedua, dia merasa terhina karena tunangan anaknya diculik.  Apa pembelaan kita?”

Kemudian Badaro dari Sungai Tarab, anggota Empat Balai yang tertua, mengusulkan Cindur Mato diperintahkan meninggalkan Pagaruyung.  Meninggalkan Pagaruyung dan pergi ke Indra Pura.
“Jika Tiang Bungkuk datang, kita katakana bahwa Cindur Mato telah dibuang menurut hukum adat kita. Mengenai tewasnya Imbang Jaya, Tiang Bungkuk tidak dapat menuntut kita. Imbang Jaya tewas karena berkelahi.”  Demikian keputusan pertemuan itu.

Mendengar anaknya tewas dibunuh Cindur Mato di Bukit Tambun Tulang, Tiang Bungkuk marah bukan kepalang.  Dikerahkannya pasukan ke Pagaruyung untuk membalas dendam atas kematian anaknya.  Akan tetapi, Pagaruyung adalah kerajaan yang tidak mempunyai tentara.  Jika melawan, mereka akanmati.  Oleh karena itu, mereka kemudian lari menyelamatkan diri ke Lunang.

Pagaruyung telah menjadi kosong dan sunyi ketika Tiang Bungkuk sampai.  Orang yang ditugaskan  menanti kedatangan Tiang Bungkuk ialah Raja Dua Sila, yaitu Raja Adat dan Raja Ibadat.  Mereka bertugas untuk membujuk Tiang Bungkuk agar bersedia berdamai.  Akan tetapi, Tiang Bungkuk  belum  juga puas.  Dendam kesumat atas kematian Imbang Jaya tak juga hilang.  Pagaruyung dibakarnya habis menjadi debu.
Ketika Tiang Bungkuk kembali ke Sungai Ngiang, dia membawa serta seorang anak muda yang bertingkah -laku  seperti orang gila. Akan tetapi, pemuda itu memiliki banyak ilmu. Anak muda itu bukan lain adalah Cindur Mato yang sedang menyamar.  Jika ada orang yang patah tulang atau terkilir,  ia mampu menyembuhkannya dengan cepat dengan mengurutnya pada bagian yang terkilir.  Cindur Mato  mengurutnya sambil bernyanyi dengan suaranya yang merdu.  Tiang Bungkuk sangat menyukainya.  Jika Tiang Bungkuk sakit, dan tubuhnya merasa pegal-pegal Cindur Mato yang memijatnya.   Ia memijat sambil bernyanyi hingga Tiang  Bungkuk tertidur pulas.  Karena hubungannya dengan Tiang Bungkuk sudah semakin akrab, akhirnya Cindur Mato mengetahui rahasia kesaktian Tiang Bungkuk.  Ternyata rahasia kesaktian Tiang Bungkuk terletak pada keris pusaka saktinya yang bernama “Si Bungkuk” yang menyebabkannya selalu menang dalam perang.  Dengan demikian satu-satunya senjata yang dapat mengalahkan dan membunuh Tiang Bungkuk ialah keris bungkuk miliknya sendiri.  Akhirnya dalam satu kesempatan saat Tiang Bungkuk tertidur pulas setelah dipijat, Cindur Mato mencuri keris pusaka Tiang Bungkuk lalu ditikamkan ke tubuhnya sehingga Tiang Bungkuk tewas saat itu juga.

Menurut yang empunya cerita, Istana Pagaruyung dibangun kembali oleh Cindur Mato.  Dia kemudian diangkat menjadi raja.  Bundo Kandung dan Dang Tuanku serta Puti Bungsu tidak pernah kembali lagi dari Lunang.  Mereka meninggal dan dikuburkan di sana.  Sampai sekarang oleh masyarakat setempat, makamnya dianggap keramat. [Sita S.Priyadi]
Referensi:  A.A. Navis, “Cerita Rakyat dari Sumatra Barat”. Penerbit Grasindo. Jakarta: 1994.