Rabu, 10 Juli 2013

Legenda “Kampung Separi dan Segunam” (Cerita Rakyat Rakyat Kutai) Diceritakan oleh Kak Sita



Tusya & Nenek (Foto: SP)
Tusya suka mendengarkan dongeng
Blog Sita Rosita – Rabu, 10 Juli 2013 – 17:10 WIB – Tersebutlah kisah dua orang suami istri bernama Gunam dan Ben. Kedua suami istri ini tinggal di sebuah kampung bernama Separi yang terletak di Kecamatan Tenggarong Kabupaten Kutai.

Kehidupan suami istri Gunam dan Ben selain dari mengerjakan huma dan kebun, juga melakukan kerja sambilan berburu binatang dan memancing jukut (ikan) di sungai. Pakaian mereka terbuat dari kulit kayu jomok (pohon kayu yang kulitnya dapat dijadikan bahan pakaian/celana) untuk dijadikan selowar (celana) atau ulap (kain/tapih).

Seperti biasa dilakukan selama bertahun-tahun, pagi-pagi benar Ben sudah pergi ke huma dan pulang saat senja hari. Rupanya Sangyang telah memberi mereka rezeki, karena huma tahun mereka menghasilkan padi yang cukup banyak. Demikianpula dengan para tentangga Ben sekampung. Teramat senang dan suka cita penduduk benua.

Sudah menjadi adat tradisi kebiasaan penduduk benua, setiap tahun mengadakan erau tahun mengadakan erau tahunan (upacara/pesta adat), sebagai tanda terima kasih mereka terhadap Sangyang yang telah memberipenduduk benua rezeki.

Demikianlah setelah mengetam padi, lalu diadakan erau yang disebut erau benua. Seberapa besar ongkos biaya yang diperlukan tidak menjadi soal bagi mereka karena setiap kepala keluarga sekampung saling bergotong royong. Mereka mengumpulkan berbagai macam barang dan hewan berupa beras, sayuran, ayam, babi dan barang-barang yang lain demi terselenggaranya erau benua. Bagi mereka yang penting adalah erau benua berjalan lancar dan mereka dapat bersenang-senang.

Adat tradisi erau diselenggarakan pada malam hari selama lima belas malam. Pada kesempatan itulah seluruh penduduk para istri dan suami, para gadis dan bujang, para janda dan duda berkesempatan mencari pasangan dan menentukan jodoh mereka, menentukan pilihan hidupnya untuk masa depan mereka.

Akan tetapi tidak demikian dengan si Gunam, ia berniat hadir pada acara erau benua di malam terakhir saja, yaitu di hari yang ke lima belas. Sementara erau benua terus berlangsung, pada malam itu, Gunam pergi mencari jakut di sungai untuk makan bersama istrinya. “Ben, empa’i awak subuh-subuh bejerang, sebab aku hendak pergi mancing jakut ke sungai,” kata Gunam kepada istrinya.

Keesokan paginya setelah makan hambat (sarapan pagi), Gunam diatar istrinya pergi ke pinggir sungai untuk masuk ke dalam gubang lalu menghanyut ke hilir menuruti arus Sungai Mahakam. Gunam mulai melempar dan melabuh pantawnya (pancing yang memakai pelampung gabus) beberapa buah. Dengan sabar Gunam mengawasi pantaw-pantawnya sambil berdoa dan mengharap agar pantawnya dimakan ikan.

Meskipun sudah setengah hari Gunam mengawasi pantawnya, tetapi mandik (tidak) seekor ikan yang mau memakan umpan pancingnya. “Sial benar awak hari ini, tak seekor jukut yang mau mematuk umpanku,” Gunam menggerutu sendiri. Akan tetapi, ia tetap bersabar dan terus berdoa kepada Sangyang agar diberikan rezeki untuk makan bersama istrinya.

Benar kata pepatah. Mujur tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak, karena tiba-tiba pancingnya dimakan jukut pari. Alangkah senang hatinya, ia pun segera membawa pulang ikan hasil pancingannya.

“Leh, buntut pari ini potok baik-baik dan awak salaikan. Dengan buntut pari ini, kendia pada malam penghabisan erau, akan kupepalkan pada gendang,” kata Gunam pada istrinya yang diam saja hanya menganggukkan kepalanya.

“Kanda, tidak cukupkah engan tangan dan jari-jarimu saja memepal gendang itu?” tanya istrinya, Ben  dengan tiba-tiba.

“Mandik, dinda Ben. Pada malam penghabisan itu etam (kita) harus habis-habisan, puas-puaskan, sampai semalam suntuk pun jadilah.” Jawab Gunam meyakinkan.

Demikianlah, hari-hari yang dinantikan pun sampai pada waktunya. Malam penghabisan penyelenggaraan erau benua yang dinanti-nantikan seluruh rakyat negeri pun tiba. Malam kelima belas, sebagai malam penghabisan erau sebenua itu diadakan. Di atas telampak yang kapasitas luasnya bisa menampung rakyat seluruh negeri, nampak hadir pasangan-pasangan suami-istri, anak-anak, gadis dan bujang sampai ke anak cucu. Ada yang berpakaian jomok, ada juga yang telanjang bulat. Semua asyik dengan lakonnya sendiri-sendiri. Ada yang minum tuak, ada pula yang makan daging panggang dengan lahapnya, namun satu sama lain tidaklah saling mengganggu. Masing-masing bebas memenuhi kemauan dan kehendaknya sendiri.

Ketika keramaian pesta sedang asyik-asyiknya berlangsung, di tengah malam buta itu, maka tanpa setahu orang lain, Gunam mencoba dengan ekor jukut parinya memepal gendang itu. Baru beberapa kali ekor jukut pari itu itu dipepalkan, serta merta keadaan malam yang kelam jadi berubah. Dengan tiba-tiba datanglah kilat memancarkan cahaya terang disertai bunyi petir sambung-menyambung. Orang-orang yang menyaksikan menjadi sangat ngeri dan teramat ketakutan. Beberapa orang ada yang berkata, “Nah, kita semua disumpahi dan dikutuk Sangyang. Ini akibat memukul gendang dengan ekor jukut pari. Macam-macam aja polahnya, etam segalanya kena juga balanya.”  

Pancaran kilat dan bunyi petir yang tak henti-hentinya itu hampir saja menyambar tubuh Gunam. Ia berlari terus berlari mengikuti jalan yang berkelok-kelok. Akhirnya sampailah pada sebuah pohon haur kuning yang ada di pinggir sungai. Karena letih ia berhenti untuk melepaskan lelah. Sementara itu ia jadi teringat, bahwa di dalam bumbung buluh peroko’anannya (tempat rokok terbuat dari bambu) yang tergantung di pinggangnya terdapat batu penetek leban. Segera diambilnya batu tersebut lalu digosokkan pada purun haur, sehingga muncul api. Karena itu kilat dan petir jadi berhenti mengejar dirinya. Gunam pun terhindar dari bahaya yang mengancam jiwanya itu.

Menurut cerita, jalan bekas Gunam berlari saat dikejar cahaya petir dan kilat di kampung Separi sampai sekarang masih terdapat tumpukan batu panjang berkelok-kelok.  Sedangkan masyarakat negeri yang ada di arena telampak erau benua semuanya menjadi batu karena terkena kutukan Sangyang. Dan tempat itu dinamakan Gua Batu. Di dalam gua batu tersebut terdapat baroh (danau kecil) yang dihuni oleh jukut atau ikan baung berwarna kuning sebesar lengan manusia.  Sedangkan, orang-orang yang telah dikutuk Sangyang menjadi batu bentuknya ada yang tampak sedang menyesui anaknya, berjerang, dan ada juga yang tubuhnya telanjang bulat.

Demikian cerita legenda rakyat kutai yang sekarang ini hampir punah dan sudah banyak dilupakan. Menceritakan asal terjadinya kampung Separi yang berasal dari seekor ikan pari dan teluk Segunam yang berasal dari nama Si Gunam. (M. Hanafie Kahar)

Posted
Sita Rosita, Pangarakan-Bogor

Sita Blog: "NINA BOBO": Legenda “Kampung Separi dan Segunam” (Cerita Rakya...: Blog Sita Rosita – Rabu, 10 Juli 2013 – 17:10 WIB – Tersebutlah kisah dua orang suami istri bernama Gunam dan Ben. Kedua suami istri i...

Sabtu, 29 Juni 2013

Slamet Priyadi: "Tradisi Saweran Dalam Upacara Perkawinan Masyarakat Sunda"

Slamet Priyadi Blog│Sabtu, 23 Juni 2013│07:26 WIB
Jagad Perwira dan Bunga Restu Dewi Putri syah menjadi pasangan suami istri
Pada hari Jumat, 15 Juni 2013 pukul 09:20, saya menyaksikan prosesi pernikahkan putra kedua saya, "Jagad Perwira" dengan "Bunga Restu Dewi Putri", putri kedua dari bapak Encep Hudri dan ibu Euis (besan) di rumahnya yang beralamat di kampung Tejo Ayu, Cicurug, Sukabumi.
 
Pelaksanaan Ijab Qobul
Ada acara yang cukup unik dan menarik dari keseluruhan prosesi upacara perkawinan tersebut, yaitu acara setelah prosesi pernikahan atau Ijab Kabul Sang Pengantin selesai dilaksanakan yaitu berupa tradisi “Saweran”. Dan, tradisi saweran ini merupakan bagian yang tak terpisahkan dari sebuah prosesi upacara perkawinan masyarakat sunda secara turun-temurun dilakukan.
 
Acara Saweran Berisi Pituah Bagaimana Seharusnya Berumah Tangga
Dalam pelaksanaannya acara saweran ini dipandu oleh seorang juru sawer yang biasanya diperankan oleh seorang wanita yang tingkat religi, pengalaman dan pengetahuannya dalam seluk beluk bahtera kerumahtanggaan cukup mendalam. Apa yang disampaikan dalam tembang-tembang yang dilantunkannya berisikan pituah-pituah khusus  untuk sang pengantin agar mereka di kemudian hari mampu mengarungi bahtera rumahtangga secara damai, sejahtera, harmonis dan bahagia.
Pada acara Saweran ini, kedua mempelai duduk secara berdampingan, yang didampingi oleh orangtua masing-masing mempelai. Sebuah payung berwarna kuning emas memayungi keduanya. Lantunan tembang-tembang berlanggam sunda disampaikan oleh juru sawer, berisikan pituah-pituah bagaimana seharusnya menjalani kehidupan sebuah mahligai rumah tangga bahagia. Selanjutnya, juru sawer di tengah-tengah lantunan tembang-tembang yang dinyanyikan, menebarkan berbagai jenis benda yang ada dalam “bokor” yang biasanya berisi koin uang recehan, beras, bunga, permen, dan lain-lain kepada semua yang hadir, baik para sanak keluarga maupun para undangan.
 
Add caption
Menurut juru sawer, hal itu merupakan perlambang seperti; uang sebagai lambang kemakmuran, beras sebagai lambang kesejahteraan, permen sebagai lambang bahwa, sepahit apapun proses kehidupan yang dijalani dalam hidup berumah tangga, harus selalu diselesaikan dengan cara yang manis semanis rasa permen.
Yang menarik adalah acara saweran ini merupakan acara yang paling dinanti-nantikan dan sangat disukai anak-anak yang hadir di situ yang pada umumnya mereka adalah anak-anak dari pihak sanak keluarga sendiri dan ada juga putera atau puteri dari para undangan yang ikut orang tuanya saat menghadiri pesta perkawinan. Mereka semua saling berlarian, melompat sana sini, saling berebut koin uang recehan dengan perasaan suka cita dan riang gembira.
Berkait dengan ini, Juru Sawer lebih jauh menegaskas, Tradisi Saweran yang dilakukan pada setiap upacara perkawinan atau upacara khitanan dalam keluarga masyarakat Sunda merupakan lambang rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkah rizki yang telah diberikan dan dimilikinya. Lain daripada itu , upacara ritual Tradisi Saweran juga bertujuan agar kedua mempelai pasangan pengantin dapat memahami makna yang terkandung di dalamnya bahwa di dalam hidup ini, agar selalu saling berbagi, saling membantu, saling bekerja sama, saling tolong menolong terhadap sesama.
Referensi:
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1982. Adat dan Upacara Perkawinan Daerah Jawa Barat. Jakarta: Depdikbud
Penulis:
Slamet Priyadi

Jumat, 25 Januari 2013

Tour Kota Pangkalpinang



BANGKATOUR - Pangkalpinang adalah kota terbesar di Bangka yang menjadi gerbang untuk menikmati seluruh keindahan Bangka Belitung. Pangkalpinang, kota berpenduduk sekitar 134.000 jiwa. Secara etimologis Pangkal atau Pengkal dalam bahasa Melayu bermakna pusat atau awal, merujuk pada peran kota ini sebagai pusat industri pertambangan timah. Sedangkan kata Pinang merujuk pada tempat ini yang ditumbuhi pohon palem.

Pangkalpinang terletak di sebelah timur Pulau Bangka. Sekarang kota ini telah berkembang pesat menjadi pusat perdagangan, pusat pemerintahan dan pusat industry terbesar di Babel.
Banyak objek wisata menarik yang menjadi tujuan tour fovorit wisatawan yang berkunjung ke kota ini. 

Souvenir Shop
Sebagai kota utama di Bangka Belitung, Pangkalpinang bisa Anda nikmati dengan melakukan city tour. Tidak dibutuhkan waktu yang cukup lama untuk sekedar berkeliling mengetahui seluk-beluk kota yang sedang berkembang ini. Setelah tiba di Bandara Depati Amir, Anda bisa langsung meluncur ke pusat kota atau berkeliling sejenak melewati komplek perkantoran pemerintah provinsi Bangka Belitung.

Sebagai gerbang utama kepulauan Bangka Belitung, banyak tempat shoping yang bisa Anda pilih untuk mencari barang-barang khas dari daerah ini. Anda dapat berbelanja di pasar modern Bangka Trade Center (BTC), yang cantik dan bersih. Sedangkan untuk souvenir shop Anda tak perlu khawatir, karena tokok-toko souvenir dan oleh-oleh khas Bangka Belitung hampir semuanya tersedia disepanjang kawasan strategis kota. 

Kerajinan Kain Cual Ishadi
Kain Cual atau dikenal juga sebagai batik cual, adalah kain khas Bangka Belitung. 

Museum Timah
Meseum Timah yang terletak kota Pangkalpinang ini adalah satu-satunya museum timah terbesar di Indonesia. Mesum Timah Indonesia ini terletak persis di Jantung kota, tepatnya di Jalan Jenderal Achmad Yani No. 17, Pangkalpinang.
Museum ini menyimpan beragam koleksi besar benda-benda terkait tambang timah dan merupakan satu-satunya museum pertambangan di Asia. Bangunan museum ini adalah bangunan bersejarah, karena pernah digunakan sebagai tempat Perundingan Roem-Royen.
 
Pantai Pasir Padi
Pantai Pasir Padi merupakan salah satu pantai yang paling indah di kota Pangkalpinang. Di pantai ini juga terkenal karena memiliki restaurant seafood yang lezat. Khusus pada hari-hari libur pantai ini sangat ramai dikunjungi oleh masyarakat setempat. Letaknya yang cukup dekat dari pusat kota, hanya sekitar 7 km, menjadikan pantai pasir padi sebagai okjek wisata favorit yang tak pernah sepi.
Pantai ini adalah tempat sempurna untuk menikmati pesona matahari terbit bersama pasir putih, laut biru yang jernih dan ombak yang tenang. Ketika air surut, Anda dapat berjalan ke Pulau Punan dan bermain-main di perairannya yang tenang. Tidak terlalu jauh dari Pantai Pasir Padi, sekitar 2,5 km, dapat Anda kunjungi pula Pantai Tanjung Bunga yang merupakan pantai datar dihiasi serentetan formasi batu-batu besar yang cantik.
 
Kuil Kwan Tie Miaw
Kota Pangkalpinang sangat kental dengan nuansa China. Menurut sejarah interaksi antara masyarakat China dan melayu, memang sudah terjalin sejak awal 1770. Tidak heran sekarang kota ini menyimpan sejumlah kuil tua yang eksotis. Salah satunya adalah Kuil Kwan Tie Miaw.

Kuil Kwan Tie Miaw berdiri gagah di Jalan Walikota Syarif Rachman. Dulu kuil ini disebut Kuil Kwan Tie Bo dan menjadi salah satu kuil tertua yang di bangun tahun 1841, bersama dengan pasar Mambo. Kawasan tersebut merupakan Kampung China, di Pangkalpinang. Berbagai upacara tradisional China seperti ritual Pot Ngin Bun yaitu untuk menolak bala dan segala wabah penyakit yang mewabah sering di gelar di kawasan kuil ini.

Obyek wisata dekat Pangkal Pinang

Pantai Matras

Pantai Matras
Pantai Matras terletak di Desa Sinar Baru, Kecamatan Sungailiat, sebelah timur Pulau Bangka 40 km dari Pangkalpinang dan 7 km dari Kota Sungailiat. Pantai Matras sering disebut Pantai Surga karena keindahannya, Pantai Matras memiliki hamparan pasir putih bersih sepanjang 3km dengan lebar 20-30 meter. Selain itu Pantai Matras juga di latar belakangi oleh pepohonan kelapa dan aliran sungai dengan aliran air yang sangat jernih. 

Diantara Pantai-pantai lain di Bangka, Pantai Matras adalah pantai yang banyak dikunjungi oleh wisatawan, baik domestik maupun Mancanegara. Di sekitar Pantai Matras juga telah dibangun beberapa penginapan seperti bungalow sederhana, hotel, layanan tour dan travel serta tempat-tempat hiburan yang sangat tepat untuk beristirahat sambil menikmati keindahan Pantai Matras. 

Selain itu juga banyak terdapat pusat-pusat penjualan souvenir dan makanan khas Bangka seperti Kemplang panggang, Kerupuk ikan, Keretek ikan/cumi, Rusip, Belacan/Trasi dan masih banyak lagi. Pantai Matras adalah tempat yang layak dikunjungi bila berkuncung di Bangka Belitung. (utiket.com)

Kamis, 03 Januari 2013

Mengunjungi Desa Bawomataluo di Nias


BARRY KUSUMA | Dalam bahasa Nias, Bawomataluo berarti bukit matahari. Dinamakan demikian karena desa ini terletak di ketinggian 400 meter di atas bukit.
RABU, 2 JANUARI 2013 - KOMPAS.com - Desa Bawomataluo ini sudah didaftarkan World Heritage di UNESCO sejak 2009 sebagai warisan budaya dari Indonesia. Desa ini adalah desa adat sekaligus desa budaya yang cukup dikenal di Kabupaten Nias Selatan, Sumatera Utara. Untuk mencapai desa ini, diperlukan perjalanan darat selama 3 jam dari Gunung Sitoli menuju pesisir pantai selatan Nias.

Dalam bahasa Nias, Bawomataluo berarti bukit matahari. Dinamakan demikian karena desa ini terletak di ketinggian 400 meter di atas bukit. Di desa yang berhawa sejuk ini kita bisa melihat banyak rumah adat Nias Selatan yang masih terjaga.

Ternyata Desa Bawomataluo adalah ibu kota desa-desa adat yang tersebar di Nias. Konon, desa ini sudah ada sejak zaman megalitikum. Peninggalan zaman itu bisa kita lihat dari sebuah bangunan kuno dan bebatuan besar di salah satu rumah adat Raja Nias yang ada di sini.

Keunikan lainnya, desa ini terlihat seperti sebidang lahan luas yang rata dengan batu, yang dipenuhi deretan rumah-rumah penduduk yang saling berhadapan. Dari tangga masuk desa, kita bisa langsung melihat deretan rumah penduduk. Di antara rumah penduduk itu, rumah Raja Nias terletak di sebelah kiri. Sedangkan deretan rumah adat penduduk dan sebuah balai desa berada di sebelah kanan.

Meskipun telah berusia ratusan tahun, bangunan-bangunan itu masih utuh dan terjaga dengan baik. Bangunan-bangunan itu tidak pernah direnovasi kecuali atap rumah yang diganti dengan seng agar lebih awet.

Wisatawan tidak dipungut biaya untuk masuk ke desa ini. Namun, terlebih dahulu kita harus melapor kepada ketua adat setempat. Dari sana kita akan dijelaskan tentang sejarah desa adat tersebut. Tidak ada larangan khusus saat mengunjungi desa ini, selain meminta izin dan berpakaian sopan. (Barry Kusuma)
Ikuti twitter Kompas Travel di @KompasTravel
 
Sumber :
Editor :
I Made Asdhiana

9.000 Wisatawan Merayakan Tahun Baru di Trawangan


KOMPAS IMAGES/I MADE ASDHIANA Wisatawan tiba di Gili Trawangan, Lombok, Nusa Tenggara Barat.
RABU, 2 JANUARI 2013 | 14:45 | MATARAM, KOMPAS.com - Sekitar 9.000 wisatawan mancanegara maupun nusantara merayakan Tahun Baru 2013 di obyek wisata Gili Trawangan di Kabupaten Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat.

Kepala Dinas Perhubungan Pariwisata Komunikasi dan Informasi Kabupaten Lombok Utara, Sinar Wugiarno di Tanjung, Rabu (2/1/2013), mengatakan para wisatawan itu datang ke obyek wisata bahari tersebut  pada 30 dan 31 Desember untuk merayakan malam tahun baru di Gili Trawangan.

"Ribuan wisatawan itu datang ke Gili Trawangan menggunakan kapal cepat dari Bali untuk merayakan malam tahun baru, kemudian ada yang kembali lagi ke Pulau Dewata. Namun sebagian ada yang menginap di Trawangan," ujarnya.

Sinar mengatakan, sebagian wisatawan tidak bisa menginap di Gili Trawangan karena kamar hotel sudah penuh. Kamar hotel di obyek wisata itu penuh hingga 5 Januari 2013. Banyak wisatawan yang menghabiskan masa libur mereka di tempat wisata tersebut.

Pada perayaan tahun baru, Pemkab Lombok Utara menggelar berbagai kegiatan antara lain Gili Begawe yang dihajatkan menjadi media promosi sekaligus memperkenal obyek wisata Tiga Gili sebagai destinasi wisata unggulan dengan keindahan panorama alam bawah laut dan pesona kearifan lokal yang tetap lestari.
"Gili Begawe juga ditujukan untuk berbagai kegembiraan sekaligus memeriahkan momentum pergantian tahun bersama masyarakat dan wisatawan yang pada acara pergantian tahun itu dipadati wisatawan," katanya.

Acara itu, menurut Sinar, merupakan upaya pencitraan positif tentang Tiga Gili yang tidak hanya memiliki keindahan alam, namun juga ada kebersamaan dengan masyarakat dan pemerintah. Angka kunjungan wisatawan ke Gili Trawangan pada 2012 mencapai 400.000 orang, baik wisatawan mancanegara maupun nusantara. Para wisatawan itu datang menggunakan kapal cepat dari Bali dan melalui Pelabuan Bangsal dan Teluk Nara di Kecamatan Pemenang.
 
Kabupaten Lombok Utara memberikan sumbangan sekitar 40 persen dari total kunjungan wisatawan ke Provinsi NTB sebanyak satu juta  orang  selama 2012 sebagaimana yang ditetapkan dalam program unggulan Visit Lombok Sumbawa (VLS).

"Kami optimistis akan mampu menyumbang lebih banyak lagi kunjungan wisatawan pada VLS jilid II 2015 dengan target kunjungan sebanyak dua juta orang," ujarnya.

Ikuti twitter Kompas Travel di @KompasTravel
 
Sumber : Antara
Editor : I Made Asdhiana